Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 21 Oktober 2010

KEBERAGAMAN ADALAH KEKUATAN

Maraknya aksi kekerasan atas nama perbedaan telah membuat prihatin sejumlah kalangan dan lembaga swadaya masyarakat. Mulai aksi penyegelan rumah ibadah di gereja Yasmin Bogor, kekerasan Jemaah Ahmadiyah di Manis Lor, HKBP Pondok Timur Bekasi, Jemaah Ahmadiyah Cisalada Bogor. Kekerasan dan penyerangan atas nama undang-undang kerpa kali menjadi alasan berbagai pihak untuk melegalkan tindakan mereka. Seolah menjadi legal ketika walikota, pemerintah kota melakukan penutupan dan penyegelan tempat ibadah atas nama pertaurna bersama menteri agama dan menteri dalam negeri. Atau atas nama Ijin mendirikan bangunan yang tidak terpenuhi.
Bahkan atas nama kepuasan segelintir pihak kekerasan dilegalkan, seperti yang terjadi baru-baru saja di perkampungan Ahmadiyah di Cisalada Bogor, 1 Oktober lalu.
Bertolak dari ragam kekerasan yang masih terjadi Forum Solidaritas Kebebasan Beragama (FSKB) menggelar malam refleksi Bhinneka Tunggal Ika dengan mengambil tema “Keragaman adalah Kekuatan”. Acara ini digelar pada tanggal 8 Oktober 2010, di Taman Ismail Marzuku (TIM).
Dalam refleksi tersebut sejumlah tamu yang hadir diajak kembali untuk mengenang bahwa Indonesia adalah Negara yang beragam. Kebhinnekaan adalah kekayaan Indonesia dan hal ini menjadi sumber kekuatan bagi bangsa.
Dalam acara ini muncul sejumlah tokoh seperti Putu Wijaya yang menyampaikan pesan kebudayaan. Dalam pesannya seniman dan juga budayawan itu menyampikan, keragaman adalah kekuatan bagi kita semua untuk itu jangan mau kita di permainkan oleh kepentingan-kepentingan yang mengabaikan kebhinnekaan.
Indonesia ini seperti taman bunga dengan warna-warni perbedaan yang indah, untuk itu selayaknya kita bersama menjaganya. Membiarkan warna-warna indah itu menghiasi bumi pertiwi dengan keragamannya.
Selain itu orasi budaya juga disampaikan oleh Bondan Gunawan mantan Sekretaris Pengendalian Pemerintah pada masa pemerintahan Gus Dur. Dalam orasinya sejumlah keprihatinan disampaikan antara lain tidak hadirnya satupun perwakilan dari organisasi Islam seperti NU dan Muhamadiyah. Menurutnya ketidak hadiran mereka itu telah membuatny kecewa terhadap upaya mempertahankan kebhinnekaan. Perwakilan dari agama lain hadir hanya dari organisasi Islam yang tidak hadir malam ini.
Dalam acara ini hadir pula perwakilan dari penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan yang diwakili oleh Dewi Kanti. Dalam alunan tembang Sunda yang lembut di barengi petikan kecapi, ia menyampaikan pesan tentang perbedaan itu adalah keragaman yang harus dijaga. Nusantara ini kaya dengan keragaman, unutk itu kita semua harus menjaga dan mempertahankannya. Sebagai agama local, Sunda wiwitan juga ikut menjaga dan mempertahankan budaya sebagai kebhinnekaan. Selain itu Sunda wiwitan termasuk kepercayaan asli masyarakat Sunda yang hingga kini belum memperoleh pengakuan dari negara. Bahkan mereka termasuk kelompok yang rentan dnegan kekerasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar